Being Different is Not a Big Deal

Anak-anak. Children. Child. Kodomo. Atau apa pun sebutannya dalam bahasa apa pun, apa sebenarnya makna nya? Tetaplah anak-anak, bukan? Dan siapa yang memberi standar anak di usia sekian harus bisa melakukan ini dan itu dan ini itu? Orang dewasa. Lalu ketika ada anak yang di usia sekian belum bisa melakukan ini dan itu, kemudian seolah harus dianggap memiliki kekurangan. Siapa sebenarnya yang membenarkan hal seperti itu? Orang dewasa. 

Pernahkah kita para orang tua sedikit saja mempercayakan semua pada anak-anak kita? Pernahkah kita sejenak saja meletakkan ego dan 'pengetahuan' kita di tempat paling bawah dan cukup mengawasi, dengan tetap memberi sedikit stimulasi, tanpa unsur intervensi terhadap anak-anak kita? Di usia emas, antara 0-3 tahun adalah masa penting dalam hidup anak-anak kita. Masa dimana mereka memegang kendali atas kemampuan mereka sendiri, yang itu semua tidak disadari para orang tua. Orang tua merasa memberikan stimulasi adalah hal terbaik yang bisa mereka lakukan. terkadang tanpa sadar kita memberi stimulasi pada anak diatas apa yang mampu dilakukan anak, dengan dalih mereka bisa melakukannya dan demi kebaikan mereka. Padahal pernahkah orang tua berpikir bahwa mungkin saja bukan itu semua yang diinginkan anak itu sendiri.

Ketika di usia sekian anak belum bisa mengucapkan kata dengan jelas, orang tua berpendapat mereka kurang dalam hal perkembangan. Salah satu contohnya adalah anak saya, Keenan. Dia sekarang usia 1 tahun 23 bulan 16 hari dalam perhitungan kalender Masehi, dan dia belum lancar dalam komunikasi dua arah. Ketika ditanya, dia bukan menjawab, melainkan mengulang pertanyaan tersebut dengan intonasi dan kata yang sama. Menurut standar, entah siapa yang mebuat standar tersebut, karena kebanyakan yang saya tahu bahkan ketika dulu masih mengajar Playgroup, di usia sekian anak seharusnya sudah bisa berkomunikasi secara dua arah. Ketika ditanya dia akan menjawab meskipun hanya mengambil bagian akhir dari jawaban yang seharusnya. Semisal ditanya "Adek mau susu atau maem?" maka seharusnya dia menjawab "Maem" atau jika pertanyaan diulang dengan pertanyaan sama dengan menukar pilihan jawaban, mungkin mereka akan menjawab dengan mengambil bagian akhir dari pilihan jawaban misalkan "Maem atau susu?" dijawab "Susu". Jika itu saya terapkan kepada Keenan, mau tahu bagaimana jadinya?

Saya: "Keen.. Mau susu?"
Keen: "Mau susu?"

Dengan pertanyaan model lain atau dengan intonasi berbeda pun dia akan menjawab sama dgn intonasi sama. Saya tahu, jika merujuk pada standar perkembangan bahasa, seperti yang distandarkan kebanyakan orang, seusia Keen berarti belum berkembang dengan seharusnya. So, i said that he is 'different'. Berbeda bukan dalam artian tidak bagus seperti bagaimana kebanyakan orang menilai. berbeda karena memang dia berbeda dari standar yang ada. But it doesn't matter at all. Terlebih bagi saya dan ayahnya. Banyak yang lantas berpendapat, Ibu nya sudah dirumah kok masih juga belum bisa apa-apa. Ngomongnya belum jelas lah, hiperaktif lah, dll.

Seprti tidak mau terlalu banyak bicara, saya hanya tetap diam dan melakukan yang seharusnya dan biasanya saya lakukan. Dengan berbagai pendekatan, berbagai cara, mencari pendekatan pengajaran yang sesuai dengan karakter dan tahap kembang dia sekarang. Meskipun banyak perbandingan dari keluarga, Keen dibandingkan dengan sepupunya, yang notabene ibunya bekerja, yang justru lebih mandiri dan tumbuh sesuai tahap wajar standar yang saya maksudkan sebelumnya, dan ternyata Keen masih berada di belakang, saya dan suami tetap berusaha melakukan segalanya dengan tenang, karena dalam kondisi seperti ini ketenangan adalah hal yang paling penting. Meskipun terkadang ada rasa tersinggung atau sakit ketika mereka membanding-bandingkan, tapi mommi nya Keen tetap berjalan dengan tenang dan kepala tegak.

FYI, tidak terlalu penting, tapi barangkali someday Keen baca tulisan momminya, bahwa kami orang tua Keen bangga apa pun yang Keen miliki. Entah itu kelebihan maupun kekurangannya. Mommi dan Peppo nya Keen sedang berusaha untuk menerapkan beberapa pendekatan untuk menstimulasi Keen secara wajar. Jika memang nanti tidak terlalu berhasil juga, kami sudah tau kelebihan lain yang dimiliki Keenan.

Mungkin itu juga catatan yang paling penting. Jangan terlalu mempermasalhkan kekurangan yang dimiliki anak yang gak akan habis jika dibandingkan dengan anak lainnya karena masing-masing anak itu unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika menemukan sesuatu yang menurut kita 'kurang', lakukan pendekatan stimulasi yang sesuai dengan karakter dan perkembangan anak kita saat itu, jangan berpatokan pada standar yang ditentukan secara umum karena anak yang satu dan lainnya JELAS berbeda. Jika sudah dilakukan berbagai pendekatan dan dirasa 'tidak' berhasil, maka memang disana kekurangan anak kita yang mungkin bisa jadi catatan untuk kita sendiri. Bukan untuk menjadikannya lebih baik, hanya sekedar catatan bahwa anak kita juga manusia yang tidak sempurna dan carilah hal lain yang mungkin lebih menonjol untuk menutupi kekurangan tersebut. 

Jika kita ingin anak kita sukses di kemudian hari, mulailah dari mindset kita sendiri. Jangan permasalahkan kekurangan yang ada dalam diri anak-anak kita tapi ajari mereka untuk mengembangkan hal baik yang menonjol dalam diri mereka. Hal ini juga baik untuk mengajari mereka menghargai dan menerima diri mereka dan bisa berkembang dalam hal penerimaan dan penghargaan terhadap orang lain. So, being different is not a big deal. 


Tulisan ini untuk menguatkan diri sendiri, dan mungkin juga berguna untuk menguatkan yang lain yang mungkin mengalami hal yang tidak jauh berbeda. 
Salam cinta selalu dari Mommi dan Keen

Komentar